Pesan The SOK Maniac™

Jangan lupa tinggalkan komentar ya...

Rabu, 18 April 2012

Cara Membuat Batik


               
                Saya pernah ikut kursus membatik dengan warna alami di Yogyakarta 10 tahun yang lalu. Sebelumnya saya suka membatik, akan tetapi menggunakan warna napthol atau remazol. Semuanya warna dari kimia dan impor. Memang warnanya indah dan ‘ngejreng’, khas batik Pekalongan dan pesisiran lainnya. Terutama pewarna Remazol, kita bisa memakai kuas sehingga seperi sedang melukis saja.

  
    Pokoknya asyik deh membatik itu, terutama pas mewarnai, kecuali ketika membuat garis-garisnya memakai canting dan malam/lilin batik panas yang luar biasa repotnya dan butuh ketrampilan khusus, yang disebut ‘nglowongi’ (yang ini saya sering mengeluh). Ada trik yang bisa kita pakai, yaitu klowongannya dibuatkaan oleh ahlinya (di Pekalongan biasanya Ibu-Ibu tua di kampung-kampung), sekaligus memberi tambahan income mereka. Kita yang menggambarkan polanya. Karena kalau garisnya tidak menyambung 100%, warnanya akan keluar dan luber (‘mblobor’ istilah dalam membatik).


                Ada cara lebih mudah membuat batik gaya Palembangan, yatu batik jumputan. Tanpa perlu pakai lilin panas dan canting. Hasilnya tetap menarik sesuai dengan daya kreativitas dan imajinasi Anda. Untuk warna jreng, Anda bisa pakai warna kimia. Untuk warna alami, Anda bisa menggunakan warna tanaman dan hasilnya lebih menarik dan unik. Saya pernah membuat proyek bersama murid-murid saya di Caltex American School di Duri dan murid-murid menyukai hasil seni dan kreativitas mereka.



Persiapan membuat batik jumputan:


-Sediakan kain katun, lebih baik kain katun khusus untuk membatik karena kanji pelapisnya sudah dibuang (istilah batiknya: sudah dikemplong). Kalau membeli katun biasa, sebaiknya dicuci dulu. Untuk pemula, cukup 1 X 1 meter saja.
- Sediakan batu kecil dalam berbaga ukuran, atau kelereng dalam berbagai ukuran, dan karet gelang (warna putih agar tidak mengkontaminasi warna) atau tali raffia.
- Sediakan daun atau kulit pohon yang akan digunakan untuk bahan pewarna alami. Cincang supaya mudah dilembutkan. Kalau mau cepat, sediakan cat pewarna tekstil atau pewarna kain ( napthol atau remazhol )

Caranya:


 1)  Buat design berupa garis atau bentuk apapun yang Anda inginkan tipis saja.
 2)  Lalu ikat kerikil atau kelereng di garis tersebut. Bisa diikat sekali atau dua kali.
 3)   Siapkan cat pewarna tekstil.

 4)   Hasilnya bisa ditambahkan air lagi sedikit saja.
 5)   Rendam air perasan dengan kain yang diikat selama semalam.
 6)  Keesokan harinya, peras kainnya lalu direndam di air yang telah Anda tambahi cuka atau air kapur atau air jeruk nipis. Setiap bahan pengikat ini akan memberi efek warna yang berbeda. Anda bisa bereksperimen. Bahkan bahan yang sama dengan jumlah ukuran yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda. jati).

 7)   Rendam beberapa sekitar 4-6 jam. Lalu diperas dan dibilas cukup sekali saja.
Dikeringkan ditempat teduh.
 8)   Air rendaman pewarna alami bisa dijadikan pupuk organic untuk tanaman Anda.
 9)   Selamat berkreasi membuat batik jumputan.


 Catatan:

Jika menggunakan warna alami perhatikan daftar di bawah ini!!.

-Warna hijau: Daun suji, daun pandan, kangkung, bayam, daun katuk, dan daun-daunan lainnya.
-Warna merah: bunga rosella, kembang sepatu warna merah, akar mengkudu, angkak (beras yang difermentasi), buah merah (ini dipakai di Papua) dan buah serta bunga warna merah lainnya.
-Warna ungu: kulit manggis, umbi bit.
-Warna kuning: temu mangga, temulawak
-Warna oranye: Kunyit, wortel, kayu secang, daun pacar/inai (bisa oranye ke merahan)
-Warna coklat: Teh kental, kopi kental, kulit kayu jati, dan ada beberapa batang kayu yang biasa dipakai mewarnai batik.
-Warna hijau olive: Daun sirih (bisa berubah warna tergantung jenis pengikat warna yang dipakai. Kapur sirih akan memberikan warna gradasi coklat –olive)
-Warna coklat kemerahan: Gambir, daun sirih dan pinang.
-Warna biru: Buah duwet, bluberi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklan